Duduk dan termenung
Sendiri, diam dan tanpa kata
Hilang dari keramaian tanpa jejak
Melamun tanpa memikirkan sesuatu
Sendiri menatap langit biru
Entah apa yang dipikirkan
Termenung melihat sesuatu yang belum pasti di lihatnya
Dengan tersenyum hati tenang, ingin skali
tertawa, tpi entah apa yg ditertawakan
Bingung dengan situasi, pergi tanpa bilang pda siapa pun.,
Merasakan suasana hati terblang kaku
Mungkin sempat tertawa tapi tawa itu hilang, merasa bahagia walau hanya sbentar
Tak da yg tau tawa itu hilang kemana
Hari ini mungkin akan slesai.,
Tapi tawa.,
Acchan Kaichouu
Seorang yang menyukai IdolGroup Jepang AKB48, fans dari ex-member Acchan
Senin, 24 April 2017
Selasa, 04 April 2017
Hontou ni Gomen'nasai~
Entah aku tak tahu apa yang selalu kurasakan. Aku selalu berpikir kenapa aku yang harus terpilih untuk menjalani hidup, apa yang akan menjadi takdirku dikehidupan ini, kenapa harus aku yang melakukannya. Apakah ada sesuatu yang berharga yang dapat ku lakukan sehingga aku yang terpilih dari ribuan sel telur yang telah berusaha untuk memasuki rahim ibu ku, kenapa harus aku yang jadi pemenang dari ribuan sperma yang mengalir dalam tubuh ibu ku. Aku bukanlah dari sekian banyak orang yang memiliki kelebihan yang berguna. Aku yang hidup saat ini memiliki banyak kelemahan, tidak ada satupun kebanggaan yang aku miliki, hidupku terasa kosong, acuh tak acuh aku menjalaninya, hidup yang terasa menyedihkan. Padahal banyak hal yang telah dilakukannya untukku. Ia melahirkanku, menjagaku, menemaniku, memastikan aku baik-baik saja dalam perlindungannya, tapi tak ada yang dapat aku lakukan untuk nya, aku hanya bisa membuat nya berkata bahwa ia kecewa pada ku, dan aku menyesali kenapa harus aku yang menjadi anak yang harusnya bisa ia banggakan, kenapa bukan anak-anak hebat yang dimilikinya, anak-anak yang bisa memberikan kebahagiaan untuknya, tidak seperti aku yang selalu membuatnya kecewa akan diriku yang tidak berguna. Aku selalu berpikir bahwa aku berada disini adalah sebuah kesalahan yang telah kulakukan, karna dari awal aku yang memilih untuk berjuang, berjuang untuk hidup dan berusaha untuk bisa mengalahkan sel-sel yang mencoba untuk memasuki rahim ibu ku, kenapa aku berusaha melakukannya. Terbesit dalam pikiranku untuk mengakhiri semua nya, mengakhiri apa yang sudah aku mulai, tapi itu bisa membuatnya tambah kecewa padaku, itu bisa membuatnnya jadi tambah membenciku, aku takut.. aku sungguh takut Ia membenciku, tapi tak bisa ku ungkiri bahwa aku memang tidak berguna, aku selalu menyalahkan diriku karna aku tidak berguna, setidaknya aku harus berpikir bahwa aku bisa bermanfaat untuknya, atau setidaknya gunakanlah aku untuk kebahagiaanmu, manfaatkanlah aku selama yang kau bisa, pergunakanlah aku hingga tak ada rasa kecewa yang kau rasakan, setidaknya itu bisa membuatmu tersenyum dan keberadaanku ada gunanya disisimu, aku memang tetap akan menjadi gadis kecil untukmu, gadis kecil yang selalu kau khawatirkan keberadaannya, gadis kecil yang malang yang pernah kau katakan bahwa aku mungkin tidak akan bisa bertahan hidup dalam waktu lama, karena aku bergitu mungil dan kecil saat itu. Dari semua harapamu untuk ku, aku yang sekarang hanya bisa membuatmu tambah kecewa, seharusnya dari dulu aku tidak dilahirkan, dan seharusnya engkau memiliki buah hati yang lebih cantik dari ku, tapi semua tidak bisa kembali keawal, aku telah menjadi anakmu, anak yang tidak bisa kau banggakan pada tetanggamu dan teman-temanmu, anak yang selalu membuatmu kecewa, maaf untuk segala hal yang telah kulakukan terhadapmu, maaf karna telah membuatmu berpikir bahwa aku sanggat mengecewakan. maaf karena membuatmu selalu khawatir akan diriku yang egois, maaf karna selalu menutup hati untuk mu, aku selalu mengurung diriku, memastikan aku tidak membuat sesuatu yang bisa membuatmu kecewa, tidak bisa berbagi cerita lagi padamu menjauh darimu bersembunyi dari hal-hal yang tidak bisa kulakukan, melarikan diri ketempat dimana aku tidak bisa ditemukan tapi tetap bisa melihatmu dari jauh, aku yang payah ini selalu mecoba melarikan diri, tidak bisa berhadapan langsung denganmu. Padahal kita memiliki keluarga yang utuh tapi aku tidak menikmati nya, padahal kita bisa bersama-sama tapi selalu saja ada sesuatu yang membuat kita selalu berpisah, kita keluarga yang lengkap tapi kita merasa jauh, maaf karena diriku yang tidak berguna membuat masalah untukmu, aku yang tidak berguna ini membuatmu dalam kesulitan.
Aku merindukanmu, aku merindukan sentuhan seorang Ibu, aku merindukan belaian dikepalaku, aku merindukan suapan nasi yang selalu kau berikan padaku saat aku akan berangkat sekolah, aku merindukan suapan nasi dari tangan lembut yang membelaiku, mengusap pipi ku saat aku menanggis. aku sungguh merindukan nya, engkau ada tapi aku takut untuk memintanya, aku takut ditolak oleh mu, aku takut tidak diperhatikan lagi olehmu, sungguh aku takut, aku menginginkannya sentuhan yang hangat, senyum yang hangat, belaian yang hangat, aku selalu menanggis, menganggis atas kekecewaan yang aku lakukan pada mu, menaggis disetiap malam selalu kulakuan untuk meluapkannya, sakit yang tak terlihat yang kurasaan membuat dadaku terasa ingin berteriak menahanya, tapi aku takut untuk mengatakan padamu, aku hanya ingin menanggis, menaggis dipelukanmu dan kau memeluku erat, tapi aku takut melakukannya. Aku takut. Maaf karna telah membuat mu kecewa akan diriku. Maaf menjadi anak yang tidak bisa kau banggakan. Maaf mamah. Bahkan jika aku harus memilih, aku lebih memilih pergi meninggalkan mu lebih dahulu daripada kau pergi meninggalkan ku, aku lebih memilih menukar nyawaku untuk mu daripada kau harus meninggalkan ku sendirian, aku lebih memilih mati lebih dulu daripada berakhir sendirian dan hanya bisa membuatmu lebih kecewa padaku. Bahkan jika aku pergi dulu disana ada adikku bukan, jadi walaupun aku berpisah dengan mu aku akan bersama opi anak yang kau cintai, seperti kau yang mencintaiku. Maaf atas segala hal, maaf karena tak bisa berbicara langsung pada mu, maaf karena ketidak bergunaanku, maaf karena sudah membuatmu menanggis... Maaf karena akulah yang membuat tembok yang memisahkan kita, karena akulah yang membuat kita menjauh, karena akulah yang membuatku selalu tetap sendiri dan tak membiarkan orang lain masuk bahkan untuk ibuku sendiri. Semua salahku, dari awal memang salahku, dan aku yang bersalah, karena aku yang membuat diriku terus sendiri.
Aku merindukanmu, aku merindukan sentuhan seorang Ibu, aku merindukan belaian dikepalaku, aku merindukan suapan nasi yang selalu kau berikan padaku saat aku akan berangkat sekolah, aku merindukan suapan nasi dari tangan lembut yang membelaiku, mengusap pipi ku saat aku menanggis. aku sungguh merindukan nya, engkau ada tapi aku takut untuk memintanya, aku takut ditolak oleh mu, aku takut tidak diperhatikan lagi olehmu, sungguh aku takut, aku menginginkannya sentuhan yang hangat, senyum yang hangat, belaian yang hangat, aku selalu menanggis, menganggis atas kekecewaan yang aku lakukan pada mu, menaggis disetiap malam selalu kulakuan untuk meluapkannya, sakit yang tak terlihat yang kurasaan membuat dadaku terasa ingin berteriak menahanya, tapi aku takut untuk mengatakan padamu, aku hanya ingin menanggis, menaggis dipelukanmu dan kau memeluku erat, tapi aku takut melakukannya. Aku takut. Maaf karna telah membuat mu kecewa akan diriku. Maaf menjadi anak yang tidak bisa kau banggakan. Maaf mamah. Bahkan jika aku harus memilih, aku lebih memilih pergi meninggalkan mu lebih dahulu daripada kau pergi meninggalkan ku, aku lebih memilih menukar nyawaku untuk mu daripada kau harus meninggalkan ku sendirian, aku lebih memilih mati lebih dulu daripada berakhir sendirian dan hanya bisa membuatmu lebih kecewa padaku. Bahkan jika aku pergi dulu disana ada adikku bukan, jadi walaupun aku berpisah dengan mu aku akan bersama opi anak yang kau cintai, seperti kau yang mencintaiku. Maaf atas segala hal, maaf karena tak bisa berbicara langsung pada mu, maaf karena ketidak bergunaanku, maaf karena sudah membuatmu menanggis... Maaf karena akulah yang membuat tembok yang memisahkan kita, karena akulah yang membuat kita menjauh, karena akulah yang membuatku selalu tetap sendiri dan tak membiarkan orang lain masuk bahkan untuk ibuku sendiri. Semua salahku, dari awal memang salahku, dan aku yang bersalah, karena aku yang membuat diriku terus sendiri.
Kamis, 23 Maret 2017
The First Meeting in the Mountain
Hari itu tepat tanggal 01 Januari bulan pertama di tahun ini, aku bersama teman Smp ku bernama Siwi dan Ani datang ke salah satu kampus yang ada dikota ku untuk menjemput mantan adik kelasku di Smk bernama Lenca, kenapa disebut Mantan. Karena dia sudah bukan lagi anak sekolahan tapi seorang mahasiswa, kami berencana melakukan Hikking ke Pulosari didaerah tempat ku tinggal. Diperjalan kami mengalami kendala karena salah satu ban siwi mengalami bocor dan bisa memakan waktu sekitar 30 menit untuk menambal ban, setelah selesai kami pun melanjutkan perjalanan ke Pulosari, jalan ini jarang sekali macet karena setiap aku datang kesini tidak pernah macet sekalipun, tapi mungkin sekarang macet panjang ini karena lonjakan kendaraan wisatawan dari luar daerah berhubung karena kemarin adalah acara tahun baru dengan cuaca yang kurang bersahabat.
Niat awal kami tidak lah menginap tapi PP naik lalu turun dan pulang, oleh karena itu kami tidak membawa peralatan apapun, kami tidak membawa makanan tidak membawa tenda tidak membawa sama sekali hal-hal yang berhubungan dengan pendakian kami, kami hanya membawa tas berisi snack dan air minum dan tubuh yang berjaket dan celana training saja karena semua sudah ditanggung jawabkan oleh teman Siwi bernama Tegap. Lalu kami sampai di pos pendakian sekitas jam 5 sore dan harus menunggu tegap dan kawan-kawan nya dari Jakarta untuk datang karena terlambat terjebak macet. Dan saat kami semua seudah berkumpul total kami semua lebih dari 15 orang disana. Kami mulai pendakian jam 7 malam kurang lebih, dijalan kami sering banyak berhenti karena rombongan kami kebanyakan anak cewe yang pemula baru pertama kali naik gunung. Sungguh masih lebih baik rute nya Gn. Prau yang lebih tinggi 2565 MdpL dari pada Gn. Pulosari yang tidak lebih tinggi dari 1346 MdpL lebih menguras tenaga, bahkan itu belum sampai puncak, diarah puncak rute nya lebih menguras lagi, benar-benar bukan rute yang bagus untuk pemula, bisa bikin kapok kalau ngga punya andrenalin yang lebih mah. Lalu diperjalan banyak diantara mereka yang membawa pacar dan bergandengan tangan saat naik, dan itu menyebalkan, membuat iri saja. Saat sudah sampai dikawah, aku mencari spot yang enak tempat biasa aku mendirikan tenda jika naik ke Pulosari dan berharap belum ada satu tendapun yang menempati, deket spot itu berdekatan dengan rute pendakian ke puncak. Lalu saat aku sudah menemukan tempat spot buat mendirikan tenda, kami mulai memasang tenda yahh lebih tepatnya aku dan beberapa laki-laki yang memasang, kalau para cewe mah, mereka sedang duduk mengistirahatkan diri mereka di warung-warung, disini masih bisa menemukan warung dan toilet dan pagi hari nya akan ada anak kecil yang menjual uduk yang tidak bisa dibilang buat sarapan karena sungguh nasi nya secuil. Balik lagi saat tenda sudah terpasang aku pun dan teman ku berempat duduk di warung karena tenda itu sudah penuh dengan anak-anak cewe, jadi dengan perasaan iklas setengah hawa dingin aku mulai duduk di warung. Sungguh saat tengah malam itu hawa kawah sangat terasa dingin, tidak seperti biasa nya saat aku mendaki, dingin nya sampai menembus jaket ku. Bahkan kaki dan tangan ku sampai digenggam dan diusap supaya tetap hangat oleh siwi, saat sudah menjelang pagi pun nafas ku masih terlihat tebal asap yang keluar dari mulut dan hidung seperti banteng yang sedang marah cocok sekali dengan kondisi mata yang memerah karena dingin dan juga tidak bisa tidur.
Saat itu, ada segerombol pemuda dan kawan-kawannya yang ingin menanjak kepuncak lalu mengajak kami, awal nya sih aku ragu karena sedang kedinginan dan jalan nya pasti terjal dan licin, aku sebenarnya pingin ikut sungguh ingin ikut karena sudah keempat kali nya aku kesini belum pernah kepuncak sama sekali dan itu payah hahahha sedangan temanku si Ani dia perdana naik gunung malah langsung kepuncak yah walaupun sampai atas berkabut tidak terlihat pemandangan apapun kebawah, lalu kami berlima pun berencana langsung turun saat sudah sampai puncak, pelan-pelan menyusuri gunung dengan bebatuan terasa lebih licin dan waspada was-was takut terpeleset dan jatuh, dan buruk nya itu terjadi padaku. Yahhh aku terpeleset terjatuh dan satu meter di depanku adalah jurang. Jaket dan celana training ku kotor basah, sendal gunung ku putus tas juga kotor. Tapi seneng aja sih kotor-kotoran juga. Diperjalanan turun gerombolan teman tegap naik kepuncak dan meminta air terakhir yang ada pada ku untuk mereka minum, yahh yasudah ku kasih aja, karena sepertinya mereka terlihat lebih haus apalagi mereka akan menuju puncak. Lalu tegap diajak oleh mereka untuk naik lagi, yahh dan dia bilang padaku bahwa ia menyerahkan mereka bertiga ke padaku untuk aku jaga. Dasar anak lelaki tidak bertanggung jawab dia meninggalkan kami berempat dibawah tanggungjawabku yang seharusnya menjadi tanggung jawab dia, menyebalkan. Saat berjalan turun ada satu anak muda yang memanggil kami untuk turun juga. Yaa jadinya kami berlima turun bersama, diperjalan kami bercanda dan pikiranku melayang aneh dengan pikiran 'kalau harus milih, aku lebih milih dia daripada si tegap yang tidak bertanggung jawab itu :p' lalu kami berjalan turun. Lalu saat sudah mau sampai cowo tadi langsung kabur saat sudah terdengar air gemericik dari kawah dan meninggalkan kami berempat, Parah, semua cowo sama aja, tpi setidak nya dia tidak meninggalkan kami tadi hanya mau sampai saja dia langsung ngacir. Lalu saat sudah sampai bawah aku langsung menbersikan celana tas dan sendal ku yang kotor terkena lumpur saat jatuh tadi ditempat air kawah mengalir. Lalu tidal lama pemuda-pemuda yang tadi mengajak kami untuk naik ternyata juga turun dan membersihkan diri seperti kami. Dan setelah bersih kami ketenda untuk beristirahat sejenak sebelum pulang. Ternyata di tenda ada yang masih tidur lalu cowo tadi yang turun bersama kami bertanya apakan kami lapar atau tidak yahh ku jawab aja lapar lalu dia memasak mie untuk kami bertiga, jangan tanya kenapa bertiga karena si siwi dia tidur karena baru sekarang dia merasa kedinginan padahal hawa dingin itu malam tadi buka pagi-pagi seperti ini, yah sudah kami makan makanan yang dimasak oleh cowo itu, kami berbuat guyonan dan bercanda dan siwi bertanya pada ku 'tau kagak namanya, kenalan geh' dengan usil aku tanya sambil tertawa 'iyya bang siapa namanya' lalu dia jawab dengan nama nya 'a' dan kami pun tertawa, salah satu cowo tadi yang ternyata bernama 'a' yang turun bareng dia meroko dan meminta ku untuk membuang abu rokok nya, malah secara reflek aku buang rokok nya trus siwi dan 'a' bertanya 'kok dibuang' lalu kujawab 'apa, bukanya bilang suruh buang' lalu siwi bilang 'bukan! dia mintanya suruh buang abu nya aja bukan sama rokok nya' yahh aku mah cuma nyengir aja salah denger kurang minum aqua sih muehehe :D trus aku jawab aja langsung dengan nada serius 'kalau kau adalah ayahku, aku akan memarahimu kerena meroko jadi reflek aku buang rokoknya' trus aku bertanya 'mau diambil lagi?' dia jawab 'yaudah ambil lagi' yahh sudah aku ambil rokoknya lagi trus tak kasih keorang nya.
Setelah itu kami pun beres-beres pulang, yahh lebih tepatnya kami berempat yang beres-beres maksudnya membereskan barang kami dan yang harus diberesi, termaksud sampah dari bekas mie yang kami makan tadi. Lalu kami bersiap untuk turun dan berpamitan pada orang seadanya karena hampir setengah dari kami terutama anak-anak cewe dan tegap masih di puncak. Lalu kami pamit turun. Dan pulang. End
Epilog
Waktu sudah berlalu seminggu dan aku sudah lupa dengan hal-hal yang berkaitan dengan Gn.Pulosari saat itu, tapi ternyata takdir punya cara mainnya sendiri. Aku yang tak ingat dengan siapa aku berbicara dengan banyak nya orang saat itu malah bertemu kembali, yahh lebih tepatnya dipertemukan dengan sengaja oleh temanku bernama siwi dengan seseorang yang tak sengaja atau sengaja aku buang abu rokok nya, seseorang yang saat turun gunung sempat terpikir oleh benak ku dia berinisial 'a' dan sering aku dan siwi panggil dengan sebutan Bocil. Karena usia nya lebih muda satu tahun dibawahku, awalnya malah kukira dia lebih tua ternyata masih tuaan aku, tidak sesuai ekspektasi yang diharapkan, dan kami pun menjadi dekat karena abu rokok itu, ohh jangan lupakan siwi sialan yang membuatku teringat kembali sama Bocil dan menjadi jembatan yang tidak diharapkan oleh ku untuk menghubungkan kami berdua menjadi dekat seperti sekarang.
Catatan untuk diriku sendiri
Saat digunung hati-hatilah saat berpikir dalam kepala cantikmu karena digunung tidaklah menggunakan hukum pasal-berpasal tapi hukum alam yang berlaku bisa saja langsung terjadi ditempat atau ikut serta bersama mu pulang seperti yang aku alami dengan pikiran anehku dengan bocil yang menjadi buktinya.
Quotes
Kata-kata itu terbang begitu saja dan akhirnya melayang pada orang yang tepat.
Niat awal kami tidak lah menginap tapi PP naik lalu turun dan pulang, oleh karena itu kami tidak membawa peralatan apapun, kami tidak membawa makanan tidak membawa tenda tidak membawa sama sekali hal-hal yang berhubungan dengan pendakian kami, kami hanya membawa tas berisi snack dan air minum dan tubuh yang berjaket dan celana training saja karena semua sudah ditanggung jawabkan oleh teman Siwi bernama Tegap. Lalu kami sampai di pos pendakian sekitas jam 5 sore dan harus menunggu tegap dan kawan-kawan nya dari Jakarta untuk datang karena terlambat terjebak macet. Dan saat kami semua seudah berkumpul total kami semua lebih dari 15 orang disana. Kami mulai pendakian jam 7 malam kurang lebih, dijalan kami sering banyak berhenti karena rombongan kami kebanyakan anak cewe yang pemula baru pertama kali naik gunung. Sungguh masih lebih baik rute nya Gn. Prau yang lebih tinggi 2565 MdpL dari pada Gn. Pulosari yang tidak lebih tinggi dari 1346 MdpL lebih menguras tenaga, bahkan itu belum sampai puncak, diarah puncak rute nya lebih menguras lagi, benar-benar bukan rute yang bagus untuk pemula, bisa bikin kapok kalau ngga punya andrenalin yang lebih mah. Lalu diperjalan banyak diantara mereka yang membawa pacar dan bergandengan tangan saat naik, dan itu menyebalkan, membuat iri saja. Saat sudah sampai dikawah, aku mencari spot yang enak tempat biasa aku mendirikan tenda jika naik ke Pulosari dan berharap belum ada satu tendapun yang menempati, deket spot itu berdekatan dengan rute pendakian ke puncak. Lalu saat aku sudah menemukan tempat spot buat mendirikan tenda, kami mulai memasang tenda yahh lebih tepatnya aku dan beberapa laki-laki yang memasang, kalau para cewe mah, mereka sedang duduk mengistirahatkan diri mereka di warung-warung, disini masih bisa menemukan warung dan toilet dan pagi hari nya akan ada anak kecil yang menjual uduk yang tidak bisa dibilang buat sarapan karena sungguh nasi nya secuil. Balik lagi saat tenda sudah terpasang aku pun dan teman ku berempat duduk di warung karena tenda itu sudah penuh dengan anak-anak cewe, jadi dengan perasaan iklas setengah hawa dingin aku mulai duduk di warung. Sungguh saat tengah malam itu hawa kawah sangat terasa dingin, tidak seperti biasa nya saat aku mendaki, dingin nya sampai menembus jaket ku. Bahkan kaki dan tangan ku sampai digenggam dan diusap supaya tetap hangat oleh siwi, saat sudah menjelang pagi pun nafas ku masih terlihat tebal asap yang keluar dari mulut dan hidung seperti banteng yang sedang marah cocok sekali dengan kondisi mata yang memerah karena dingin dan juga tidak bisa tidur.
Saat itu, ada segerombol pemuda dan kawan-kawannya yang ingin menanjak kepuncak lalu mengajak kami, awal nya sih aku ragu karena sedang kedinginan dan jalan nya pasti terjal dan licin, aku sebenarnya pingin ikut sungguh ingin ikut karena sudah keempat kali nya aku kesini belum pernah kepuncak sama sekali dan itu payah hahahha sedangan temanku si Ani dia perdana naik gunung malah langsung kepuncak yah walaupun sampai atas berkabut tidak terlihat pemandangan apapun kebawah, lalu kami berlima pun berencana langsung turun saat sudah sampai puncak, pelan-pelan menyusuri gunung dengan bebatuan terasa lebih licin dan waspada was-was takut terpeleset dan jatuh, dan buruk nya itu terjadi padaku. Yahhh aku terpeleset terjatuh dan satu meter di depanku adalah jurang. Jaket dan celana training ku kotor basah, sendal gunung ku putus tas juga kotor. Tapi seneng aja sih kotor-kotoran juga. Diperjalanan turun gerombolan teman tegap naik kepuncak dan meminta air terakhir yang ada pada ku untuk mereka minum, yahh yasudah ku kasih aja, karena sepertinya mereka terlihat lebih haus apalagi mereka akan menuju puncak. Lalu tegap diajak oleh mereka untuk naik lagi, yahh dan dia bilang padaku bahwa ia menyerahkan mereka bertiga ke padaku untuk aku jaga. Dasar anak lelaki tidak bertanggung jawab dia meninggalkan kami berempat dibawah tanggungjawabku yang seharusnya menjadi tanggung jawab dia, menyebalkan. Saat berjalan turun ada satu anak muda yang memanggil kami untuk turun juga. Yaa jadinya kami berlima turun bersama, diperjalan kami bercanda dan pikiranku melayang aneh dengan pikiran 'kalau harus milih, aku lebih milih dia daripada si tegap yang tidak bertanggung jawab itu :p' lalu kami berjalan turun. Lalu saat sudah mau sampai cowo tadi langsung kabur saat sudah terdengar air gemericik dari kawah dan meninggalkan kami berempat, Parah, semua cowo sama aja, tpi setidak nya dia tidak meninggalkan kami tadi hanya mau sampai saja dia langsung ngacir. Lalu saat sudah sampai bawah aku langsung menbersikan celana tas dan sendal ku yang kotor terkena lumpur saat jatuh tadi ditempat air kawah mengalir. Lalu tidal lama pemuda-pemuda yang tadi mengajak kami untuk naik ternyata juga turun dan membersihkan diri seperti kami. Dan setelah bersih kami ketenda untuk beristirahat sejenak sebelum pulang. Ternyata di tenda ada yang masih tidur lalu cowo tadi yang turun bersama kami bertanya apakan kami lapar atau tidak yahh ku jawab aja lapar lalu dia memasak mie untuk kami bertiga, jangan tanya kenapa bertiga karena si siwi dia tidur karena baru sekarang dia merasa kedinginan padahal hawa dingin itu malam tadi buka pagi-pagi seperti ini, yah sudah kami makan makanan yang dimasak oleh cowo itu, kami berbuat guyonan dan bercanda dan siwi bertanya pada ku 'tau kagak namanya, kenalan geh' dengan usil aku tanya sambil tertawa 'iyya bang siapa namanya' lalu dia jawab dengan nama nya 'a' dan kami pun tertawa, salah satu cowo tadi yang ternyata bernama 'a' yang turun bareng dia meroko dan meminta ku untuk membuang abu rokok nya, malah secara reflek aku buang rokok nya trus siwi dan 'a' bertanya 'kok dibuang' lalu kujawab 'apa, bukanya bilang suruh buang' lalu siwi bilang 'bukan! dia mintanya suruh buang abu nya aja bukan sama rokok nya' yahh aku mah cuma nyengir aja salah denger kurang minum aqua sih muehehe :D trus aku jawab aja langsung dengan nada serius 'kalau kau adalah ayahku, aku akan memarahimu kerena meroko jadi reflek aku buang rokoknya' trus aku bertanya 'mau diambil lagi?' dia jawab 'yaudah ambil lagi' yahh sudah aku ambil rokoknya lagi trus tak kasih keorang nya.
Setelah itu kami pun beres-beres pulang, yahh lebih tepatnya kami berempat yang beres-beres maksudnya membereskan barang kami dan yang harus diberesi, termaksud sampah dari bekas mie yang kami makan tadi. Lalu kami bersiap untuk turun dan berpamitan pada orang seadanya karena hampir setengah dari kami terutama anak-anak cewe dan tegap masih di puncak. Lalu kami pamit turun. Dan pulang. End
Epilog
Waktu sudah berlalu seminggu dan aku sudah lupa dengan hal-hal yang berkaitan dengan Gn.Pulosari saat itu, tapi ternyata takdir punya cara mainnya sendiri. Aku yang tak ingat dengan siapa aku berbicara dengan banyak nya orang saat itu malah bertemu kembali, yahh lebih tepatnya dipertemukan dengan sengaja oleh temanku bernama siwi dengan seseorang yang tak sengaja atau sengaja aku buang abu rokok nya, seseorang yang saat turun gunung sempat terpikir oleh benak ku dia berinisial 'a' dan sering aku dan siwi panggil dengan sebutan Bocil. Karena usia nya lebih muda satu tahun dibawahku, awalnya malah kukira dia lebih tua ternyata masih tuaan aku, tidak sesuai ekspektasi yang diharapkan, dan kami pun menjadi dekat karena abu rokok itu, ohh jangan lupakan siwi sialan yang membuatku teringat kembali sama Bocil dan menjadi jembatan yang tidak diharapkan oleh ku untuk menghubungkan kami berdua menjadi dekat seperti sekarang.
Catatan untuk diriku sendiri
Saat digunung hati-hatilah saat berpikir dalam kepala cantikmu karena digunung tidaklah menggunakan hukum pasal-berpasal tapi hukum alam yang berlaku bisa saja langsung terjadi ditempat atau ikut serta bersama mu pulang seperti yang aku alami dengan pikiran anehku dengan bocil yang menjadi buktinya.
Quotes
Kata-kata itu terbang begitu saja dan akhirnya melayang pada orang yang tepat.
Selasa, 21 Maret 2017
The first meeting and forget you
Suatu hari mungkin lebih tepat kalau aku katakan adalah pada hari Jum'at malam tanggal 27 Mei 2016, bertepat di salah satu fasilitas didaerah tempat ku tinggal selama hampir setengah umur ku.
Pada hari sebelumnya aku memiliki rencana untuk melakukan Hikking bersama teman ku ke gunung Pulosari Pandeglang tanggal 28 Mei 2016 hari sabtu bareng sahabatku yang biasa ku panggil Diyong. Malam itu sebelum ke Alun-alun, aku sempat kena omelan dari ibuku yang entah karena apa sesuatu yang tak bisa aku ingat apa yang bisa membuat beliau marah dan akhirnya aku kabur sementara dari rumah membawa bola basket dan bermain ke alun-alun, lalu sebelum berangkat aku menghubungi teman ku yang bernama Upin salah satu sahabatku dari smp, dan mengirim pesan untuk mengajaknya bermain bersama karna biasanya kami memang bermain bersama saat ada waktu senggang dimalam hari, tapi memang sedang hari apa yang aku alami, dia tidak bisa menemaniku untuk hari itu karna dia sedang mengalami UAS di tempat dia kuliah. Waktu menunjukan pukal 19.40 menit dan aku tetap menimbang-nimbang apa aku akan bermain apa tidak karena sebenarnya datang kemari bermain basket adalah sebuah pelarian untuk ku yang kabur sementara dari rumah, dan aku memutuskan pada pukul 20.00 wib, aku akan bermain atau tidak. Dan saat waktu sudah menunjukan pukul 20.01 wib dan aku memutuskan beranjak dan mengeluarkan bola basket dalam tas ku, dan mulai melakukan pemanasan.
Akhirnya pilihanku adalah aku tetap bermain basket sendirian dan sambil memasang headset ditelingaku. Memutar-mutar lapangan melatih shoot three point ku untuk latihan ku kali ini. Aku bermain sendirian dan saat sedang asik bermain sendiri awal ada yang datang 4 orang meminta untuk ikut bermain tapi aku tidak mau, dan setelah mereka pergi ternyata datang lagi satu manusia laki-laki yang juga ingin bermain basket, awalnya sih aku tidak mau dan tetap bermain sendiri, tapi lama-kelamaan kasihan juga melihatnya berdiri sambil melihat kearahku yang sedang asik bermain, lalu kulempar saja bolanya kearah dia, yahh setidaknya satu lebih baik daripada empat orang tadi bisa-bisa ngga kebagian bola. Awalnya sih cuma basa-basi menurutku, yahh seperti menanya kan tinggal dimana, kerja dimana, dll. Saat dia menyebutkan namanya dan memintaku untuk menyebutkan nama. Aku sebenarnya bukan tipe orang yang bisa meneriman orang lain yang baru dikenal dengan mudah, aku tipe yang bisa melupakan seseorang dengan cepat, yah seperti 'lupakan sesuatu yang perlu kulupakan' jadi yang kulakukan saat bertemu dengan orang yang baru kukenal adalah tersenyum, tertawa jika ada sesuatu yang menarik untuk di tertawakan dan esok hari nya aku akan lupa, dan bila ada kemungkinan aku ingat adalah kalau kita bakal bertemu lagi. Balik keceritanya, dia memintaku untuk menyebutkan namaku, jika dia bisa memasukan shoot three point dalam satu kali tembakan, dia menyebutkan namanya terlebih dahulu yaitu Gilang (dia bukan berasal dari tempatku tinggal tapi dia adalah orang Jawa, dengan perawakan tinggi tegap menjulang, postur tubuh seperti seorang polisi, memakai kaos hitam celana pendek), dan saat dia bisa memasukan bola dengan terpaksa aku menyebutkan namaku Hanum, bukan dengan nama asli tapi dengan nama belakang dari namaku, saar sudah hampir selesai bermain ada anak dari sisi ring lainnya mengajak aku dan gilang untuk bermain three on three tapi masalah nya jam sudak menunjukan pukul 21.30 wib sudah waktuku untuk pulang, awalnya sih bisa dibilang mau main juga tapi yang kulakukan adalah sebaliknya melakukan pendinginan. Lalu gilang menghampiri aku bertanya 'udah selesai' lalu kujawab 'iyya pendinginan dulu lalu pulang' dia membujukku untuk bermain lagi dan tidak pulang, akhirnya dia bermain bersama yang lain dan aku duduk kembali setelah pendinginan, saat sedang meilihatnya bermain dia menghampiri ku dan bertanya 'apakah besok aku akan bermain lagi' lalu kujawab 'tidak, besok aku akan pergi ke Pandeglang' dan selanjutnya aku lupa apa yang kami bicarakan hingga aku beranjak untuk berdiri dan pamit untuk pulang. Lalu saat aku menuju motor ku yang terparkir, memasang headset ditelinga ku untuk mendengarkan musik sambil pulang, ternyata dia mendatangiku diparkiran dan berkata 'mbak, ada yang ketinggalan' trus kujawab 'apa yang ketinggalan, ngga ada deh!' dia jawab 'nomor handphone nya' lalu ku jawab 'sorry bukanya ngga mau ngasih tapi aku ngga bisa sembarang ngasih nomor ke orang lain' dia jawab lagi 'ngga bakal ngapa-ngapain kok' lalu dengan jawaban final aku menjawab 'gini aja deh, kalau ketemu lagi baru bakal kasih no handphone nya, gimana' lalu di menjawab 'yaudah, kalau gitu biar aku tunggu disini ya!' dan setelah itu aku pulang, dan sampai sekarang tidak pernah bertemu lagi. End.
Epilog
Sebenarnya saat dia menyebutkan namanya didalam hati aku berkata untuk meyakinkan diriku untuk melupakan wajahnya dan namanya, memutuskan untuk tidak mengingat apapun tentng dia, dan akhirnya aku lupa sampai sekarang, aku benar-benar tidak ingat wajahnya, yang kuingat hanya wajah samar-samar yang membelakangi cahaya lampu lapangan.
Saat kupikir memberikan nomor handphone keorang yang baru dikenal itu bukan hal baik, dalam hati aku berkata pada diriku untuk jangan memberi nya nomor handphone, tapi benar-benar akan aku kasih nanti jika kita bertemu lagi dan aku mengingat wajahmu lagi. Karena jika ada kemungkinan kecil untuk bertemu lagi dengan cara kebetulan lainnya, mungkin bisa juga jodoh bukan wkk :D
"DIA BERNAMA GILANG BERLOGAT JAWA DARI LOGAT BICARANYA YANG MEDOK"
"HAI COWO BASKET YANG BARU KUKENAL DAN MUNGKIN SUDAH AKU LUPAKAN, KARENA JODOH TIDAK AKAN PERNAH SALAH PINTU, TAPI JIKA KITA TIDAK BERTEMU LAGI MAKA AKAN KUJADIKAN KENAGAN SAJA DENGAN MU SAAT KITA BERMAIN BASKET BERDUA"
"Takdir itu lucu ada saja caranya mempertemmukan dua orang yang tidak punya urusan dengan cara yang seolah kebetulan. Magic Banana"
Pada hari sebelumnya aku memiliki rencana untuk melakukan Hikking bersama teman ku ke gunung Pulosari Pandeglang tanggal 28 Mei 2016 hari sabtu bareng sahabatku yang biasa ku panggil Diyong. Malam itu sebelum ke Alun-alun, aku sempat kena omelan dari ibuku yang entah karena apa sesuatu yang tak bisa aku ingat apa yang bisa membuat beliau marah dan akhirnya aku kabur sementara dari rumah membawa bola basket dan bermain ke alun-alun, lalu sebelum berangkat aku menghubungi teman ku yang bernama Upin salah satu sahabatku dari smp, dan mengirim pesan untuk mengajaknya bermain bersama karna biasanya kami memang bermain bersama saat ada waktu senggang dimalam hari, tapi memang sedang hari apa yang aku alami, dia tidak bisa menemaniku untuk hari itu karna dia sedang mengalami UAS di tempat dia kuliah. Waktu menunjukan pukal 19.40 menit dan aku tetap menimbang-nimbang apa aku akan bermain apa tidak karena sebenarnya datang kemari bermain basket adalah sebuah pelarian untuk ku yang kabur sementara dari rumah, dan aku memutuskan pada pukul 20.00 wib, aku akan bermain atau tidak. Dan saat waktu sudah menunjukan pukul 20.01 wib dan aku memutuskan beranjak dan mengeluarkan bola basket dalam tas ku, dan mulai melakukan pemanasan.
Akhirnya pilihanku adalah aku tetap bermain basket sendirian dan sambil memasang headset ditelingaku. Memutar-mutar lapangan melatih shoot three point ku untuk latihan ku kali ini. Aku bermain sendirian dan saat sedang asik bermain sendiri awal ada yang datang 4 orang meminta untuk ikut bermain tapi aku tidak mau, dan setelah mereka pergi ternyata datang lagi satu manusia laki-laki yang juga ingin bermain basket, awalnya sih aku tidak mau dan tetap bermain sendiri, tapi lama-kelamaan kasihan juga melihatnya berdiri sambil melihat kearahku yang sedang asik bermain, lalu kulempar saja bolanya kearah dia, yahh setidaknya satu lebih baik daripada empat orang tadi bisa-bisa ngga kebagian bola. Awalnya sih cuma basa-basi menurutku, yahh seperti menanya kan tinggal dimana, kerja dimana, dll. Saat dia menyebutkan namanya dan memintaku untuk menyebutkan nama. Aku sebenarnya bukan tipe orang yang bisa meneriman orang lain yang baru dikenal dengan mudah, aku tipe yang bisa melupakan seseorang dengan cepat, yah seperti 'lupakan sesuatu yang perlu kulupakan' jadi yang kulakukan saat bertemu dengan orang yang baru kukenal adalah tersenyum, tertawa jika ada sesuatu yang menarik untuk di tertawakan dan esok hari nya aku akan lupa, dan bila ada kemungkinan aku ingat adalah kalau kita bakal bertemu lagi. Balik keceritanya, dia memintaku untuk menyebutkan namaku, jika dia bisa memasukan shoot three point dalam satu kali tembakan, dia menyebutkan namanya terlebih dahulu yaitu Gilang (dia bukan berasal dari tempatku tinggal tapi dia adalah orang Jawa, dengan perawakan tinggi tegap menjulang, postur tubuh seperti seorang polisi, memakai kaos hitam celana pendek), dan saat dia bisa memasukan bola dengan terpaksa aku menyebutkan namaku Hanum, bukan dengan nama asli tapi dengan nama belakang dari namaku, saar sudah hampir selesai bermain ada anak dari sisi ring lainnya mengajak aku dan gilang untuk bermain three on three tapi masalah nya jam sudak menunjukan pukul 21.30 wib sudah waktuku untuk pulang, awalnya sih bisa dibilang mau main juga tapi yang kulakukan adalah sebaliknya melakukan pendinginan. Lalu gilang menghampiri aku bertanya 'udah selesai' lalu kujawab 'iyya pendinginan dulu lalu pulang' dia membujukku untuk bermain lagi dan tidak pulang, akhirnya dia bermain bersama yang lain dan aku duduk kembali setelah pendinginan, saat sedang meilihatnya bermain dia menghampiri ku dan bertanya 'apakah besok aku akan bermain lagi' lalu kujawab 'tidak, besok aku akan pergi ke Pandeglang' dan selanjutnya aku lupa apa yang kami bicarakan hingga aku beranjak untuk berdiri dan pamit untuk pulang. Lalu saat aku menuju motor ku yang terparkir, memasang headset ditelinga ku untuk mendengarkan musik sambil pulang, ternyata dia mendatangiku diparkiran dan berkata 'mbak, ada yang ketinggalan' trus kujawab 'apa yang ketinggalan, ngga ada deh!' dia jawab 'nomor handphone nya' lalu ku jawab 'sorry bukanya ngga mau ngasih tapi aku ngga bisa sembarang ngasih nomor ke orang lain' dia jawab lagi 'ngga bakal ngapa-ngapain kok' lalu dengan jawaban final aku menjawab 'gini aja deh, kalau ketemu lagi baru bakal kasih no handphone nya, gimana' lalu di menjawab 'yaudah, kalau gitu biar aku tunggu disini ya!' dan setelah itu aku pulang, dan sampai sekarang tidak pernah bertemu lagi. End.
Epilog
Sebenarnya saat dia menyebutkan namanya didalam hati aku berkata untuk meyakinkan diriku untuk melupakan wajahnya dan namanya, memutuskan untuk tidak mengingat apapun tentng dia, dan akhirnya aku lupa sampai sekarang, aku benar-benar tidak ingat wajahnya, yang kuingat hanya wajah samar-samar yang membelakangi cahaya lampu lapangan.
Saat kupikir memberikan nomor handphone keorang yang baru dikenal itu bukan hal baik, dalam hati aku berkata pada diriku untuk jangan memberi nya nomor handphone, tapi benar-benar akan aku kasih nanti jika kita bertemu lagi dan aku mengingat wajahmu lagi. Karena jika ada kemungkinan kecil untuk bertemu lagi dengan cara kebetulan lainnya, mungkin bisa juga jodoh bukan wkk :D
"DIA BERNAMA GILANG BERLOGAT JAWA DARI LOGAT BICARANYA YANG MEDOK"
"HAI COWO BASKET YANG BARU KUKENAL DAN MUNGKIN SUDAH AKU LUPAKAN, KARENA JODOH TIDAK AKAN PERNAH SALAH PINTU, TAPI JIKA KITA TIDAK BERTEMU LAGI MAKA AKAN KUJADIKAN KENAGAN SAJA DENGAN MU SAAT KITA BERMAIN BASKET BERDUA"
"Takdir itu lucu ada saja caranya mempertemmukan dua orang yang tidak punya urusan dengan cara yang seolah kebetulan. Magic Banana"
Langganan:
Komentar (Atom)